Minggu, 19 September 2010

Penggagas Ejaan Yang Disempurnakan

Mantan Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (kini Pusat Bahasa) Prof Dr Amran Halim seorang tokoh bahasa Indonesia, penggagas Ejaan Yang Disempurnakan (YED). Mantan Rektor Universitas Sriwijaya, kelahiran Pasar Talo, Bengkulu, 25 Agustus 1929, ini meninggal dunia dalam usia 79 tahun, di Palembang, Sabtu 13 Juni 2009 pukul 11.40.
Menurut putri pertamanya, Frieda Agnani, Amaran, guru besar bahasa Indonesia, ini pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1970-an. Disebutkan, Amran Halim adalah penggagas pembakuan Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia saat menjabat sebagai Ketua Majelis Bahasa Indonesia Malaysia (MBIM). Hasil pembakuan MBIM akhirnya juga digunakan untuk bahasa Brunei Darussalam. Amran juga ikut menyusun Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) setelah menjabat sebagai Ketua MBIM. 1)
Amran Halim, tokoh bahasa yang juga guru besar Bahasa Indonesia, ini menjadi kepala Pusat Bahasa keenam yang pada awal dibentuknya pada 1 April 1975 bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Setelah Amran Halim, Pusat Bahasa kemudian dipimpin Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Drs Lukman Ali, Dr Hasan Alwi, dan kini (2009) dipimpin Dr Dendy Sugono.
Kemudian berdasarkan Keppres tahun 2000, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa berubah nama menjadi Pusat Bahasa. Lembaga ini berada di bawah naungan Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Amran Halim adalah orang yang berjasa besar dalam pengembangan Bahasa Indonesia. Saat pemerintah menetapkan ejaan resmi Bahasa Indonesia yang diberi nama “Ejaan yang Disempurnakan” (EYD) berdasarkan Keputusan Presiden No.67 Tahun 1972, kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu Sjarif Thajeb membentuk Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia dengan ketua Amran Halim.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang dipimpin Amran Halim ini kemudian menyusun buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”  yang tebalnya hanya 55 halaman, dicetak pertama kali tahun 1978 oleh penerbit Balai Pustaka. Buku berwarna putih dengan warna biru muda tempat meletakkan judulnya sudah beberapa kali mengalami cetak ulang.
Amran Halim yang hingga akhir hayatnya masih aktif di sejumlah organisasi di Sumsel, seperti menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Pendidikan Daerah Sumsel, Dewan Kesenian Sumsel, dan kegiatan kepramukaan, semasa muda pernah bergabung dalam tentara pelajar. Atas perjuangannya tersebut pemerintah menganuegrahkan bintang gerilya. Ia pun berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria Siguntang, Palembang.
Namun menurut Priada anak tertua almarhum, ayahnya pernah mengatakan tidak ingin mau dimakamkan di taman makam pahlawan. "Almarhum ingin tetap di makamkan di taman pemakaman umum Puncak Sekuning dekat makam ibu,” ujar Prida.
Amran Halim meninggal dunia di RS RK Charitas, Palembang, Sumatera Selatan, karena kanker paru. Sempat dirawat di RS RK Charitas selama 17 hari. Amran Halim meninggalkan seorang istri, Nuryanti Syafniar Amran (65), dan dua anak kandung, Frieda Agnani Amran (50) serta Davron Donny Amran (46), serta lima anak angkat, yaitu Anova Luska (42), Ribodesiana (41), Medika Azwar (37), Variantono (34), dan Agung Hakimolast (31). Hingga akhir hayat memiliki 11 cucu dari seluruh anak kandung dan anak angkatnya.

Biodata:

Nama: Prof Dr Amran Halim
Lahir: Pasar Talo, Bengkulu, 25 Agustus 1929
Meninggal: Palembang, 13 Juni 2009

Istri: Nuryanti Syafniar Amran

Anak Kandung:
- Frieda Agnani Amran
- Davron Donny Amran

Anak Angkat
- Anova Luska
- Ribodesiana
- Medika Azwar
- Variantono
- Agung Hakimolast

Cucu:
11 orang

Karir:
- Rektor Universitas Sriwijaya
- Ketua Majelis Bahasa Indonesia Malaysia (MBIM)
- Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (kini Pusat Bahasa)
- Ketua Dewan Pertimbangan Pendidikan Sumsel
- Ketua Dewan Kesenian Sumsel

Sumber: www.tokohindonesia.com